Day and Night at The Museum: Enjoy Museum

Day and Night at The Museum: Enjoy Museum

Pada kegiatan Day and Night at The Museum (DNTM) yang bertema “Enjoy museum”, Sabtu 28 Januari 2023, Museum Geologi menyuguhkan suasana berbeda dengan Film Screening (nonton bareng) dan diskusi “Dunia Geologi di Ujung Lensa Sineas”. Film yang ditayangkan yakni dua film dokumenter yang bertajuk “Living on The Fault” karya Mahasiswa Program Studi Film dan Televisi-FPSD UPI dan “Manakarra yang Mendunia” produksi Museum Geologi. Setelah penayangan film, kegiatan dilanjutkan pada sesi diskusi bersama narasumber Dr. Ir. Dicky Muslim, M.Sc. selaku dosen Fakultas Teknik Geologi-UNPAD, Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T selaku Ketua Program Studi Magister dan Doktor Teknik Geologi ITB, dan Vania Qanita Damayanti selaku Sutradara “Living on The Fault “mahasiswa Prodi FTV-FPSD UPI.


Living on The Fault merupakan film dokumenter mengenai bencana gempa bumi dan likuefaksi pada 2018 yang diakibatkan oleh pergerakan sesar aktif Palu-Koro dibahas oleh sejumlah ahli dari sudut pandang ilmu kebumian, kearifan lokal, dan penyintas bencana serta relevansinya dengan eksistensi sesar aktif di sekitaran Bandung (sesar Lembang). Living on The Fault disutradarai oleh Vania yang juga merupakan seorang penyintas gempa bumi Palu. Dalam pembutan film ini, Vania dan teman-teman nya bertujuan untuk memberikan edukasi, serta pengingat kepada masyarakat supaya lebih siap kala terjadinya bencana, terkhususnya pada daerah yang berdiri di atas sesar aktif.

“Sebelumnya saya adalah penyintas dari bencana Palu 2018 dan saat ini sedang berkuliah di UPI Bandung (Prodi Film dan Televisi). Latar belakang membuat film ini untuk memberikan edukasi ke masyarakat karena saya mengalami bagaimana rasanya sebuah kota ketika terjadi bencana, tetapi masyarakat ataupun pemerintahnya tidak siap sama sekali, terutama dalam pengetahuan kebencanaan dan mitigasi bencana. Itu yang melatarbelakangi saya dan teman-teman membuat film ini.” ungkap Vania.

Film yang ditayangkan mendapatkan tanggapan dan apresiasi dari kedua narasumber. “ini Sebuah upaya yang bagus, secara sistematis, terstruktur tetapi akademik, menyampaikan pesan” ungkap Dicky. Sementara itu Mirzam menambahkan bahwa kekhasan bangsa kita adalah pemaaf dan pelupa. “Masyarakat kita adalah bangsa yang pelupa, misalnya ketika terjadi letusan gunung api dan tsunami di Selat Sunda menyebabkan orang berpindah jauh, sementara, kemudian kembali lagi. Begitu pun berlaku untuk Palu-Koro, ada kejadian kemudian Kembali lagi, Nah dokumentasi yang dibuat oleh Vania, saya pikir itu luar biasa, akhirnya orang bisa memaafkan tetapi jangan melupakan” tambah Mirzam.

Penayangan film dokumenter setelahnya adalah “Manakarra yang Mendunia”, film ini membahas potensi geologi berupa batu mulia manakarra yang memiliki kebermanfaatan bagi UMKM. Batu ini menjadi dikenal di kalangan pecinta batu mulia karena selain bentuknya yang unik dan warna ungunya yang indah, keberadaanya pun sangat langka. Mirzam menyatakan bahwa penamaan Manakarra tersebut sebagai wujud penghargaan pada suatu tempat karena batu ini memiliki kekhasan tersendiri dan ditemukan di Manakarra-Mamuju, Sulawesi Barat.

“Batu manakara itu sering disebut juga sebenarnya sebagai grape stone atau batuan yang mirip Anggur, batuan ini kalau secara geologi disebut sebagai "chalcedony quartz“ tambah nya.

Setelahnya, Mirzam menjelaskan mengapa memiliki warna ungu dengan variasi berbeda dari warna ungu yang tampak encer hingga pekat.

“nah kemudian kenapa warnanya ungu, itu ada pengotornya… sering kali pengotornya itu adalah unsur besi, semakin berisi warnanya akan semakin pekat. Kalau pengotornya, katakan unsur lain, dia bisa menjadi warna hijau merah dan sebagainya” ungkap Mirzam.

Sementara itu Dicky mengimbuhkan bahwa batu Manakarra bisa menjadi ikon sumber daya geologi yang berkaitan langsung dengan masyarakat kecil, melalui UMKM.

“Saya kira batu manakara ini bisa menjadi ikon dari sisi Sumber daya geologi yang langsung berkaitan dengan UMKM masyarakat kecil sehingga membantu perekonomian mereka, beda dengan bisnis mineral tambang yang besar-besar, itu patut patut untuk didorong oleh museum sebagai sebuah ikon ke depan” tambah Dicky.

Kedua film yang ditayangkan pada acara Day & Night at The Museum ini menunjukan sisi geologi dari kebermanfaatan (Manakarra yang Mendunia) dan kebencanaan (Living on The Fault). Manfaat dan Bencana geologi sendiri merupakan tema khusus dalam ruang pamer Museum Geologi yang berada di lantai dua sayap timur musem (Ruang Manfaat dan Bencana Geologi). Pada ruangan ini, diperagakan koleksi yang mencirikan pemanfaatan benda geologi oleh manusia sejak zaman praaksara hingga modern, serta sejarah peristiwa kebencanaan geologi di Indonesia.

Sebelum penayangan film, DNTM pagi harinya telah dilakukan talkshow mengenai “Manajemen Koleksi di Era Digital” serta peluncuran aplikasi database dan website resmi Museum Geologi oleh kepala Museum Geologi Raden Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T bersama rektor ULBI Dr. Ir. Agus Purnomo, M.T.